Yogi18’s Blog

Just another WordPress.com weblog

LEADERSHIP DI PEREKONOMIAN BUMN

Leadership di Perekonomian BUMN

“Memang tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang beranggapan bisnis adalah bisnis, tidak ada kaitannya dengan etika dan moral, bahkan ada yang menyatakan mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Aplikasi konsep kepemimpinan yang benar memang perlu ikhtiar yang luar biasa apalagi dalam bidang ekonomi, bidang yang menawarkan keindahan harta duniawi. Dunia ekonomi menawarkan resiko yang cukup tinggi kepada orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Kekuatan iman yang dibutuhkan sangat besar karena jika tidak, maka bisa saja para pemegang kekuasaan ekonomi tersebut tergelincir. Melihat keterpurukan Indonesia dalam ekonomi yang tiada putusnya, ada kemungkinan para pemimpin ekonomi kita memang belum berada di jalur pemimpin yang seharusnya.

Leadership, adalah sebuah kata yang memilki arti kepemimpinan, kepemimpinan yang dapat mengorganize kelompoknya dengan baik, menjadi panutan bagi anak buahnya, dan dapat memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi. Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out). Seoarang leader atau pemimpin membutuhkan komitmen yang tinggi dan etos kerja yang baik, memiliki etika dan moral yang baik, memilki sifat berani mengambil resiko, tidak mudah putus asa,menyukai tantangan, kreatif inovatif, memiliki visi jauh ke depan, selalu berusaha, dan memberikan yang terbaik bagi apa yang dipimpinnya.

Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.
Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).

Dalam tulisan ini, saya akan mendalami “LEADERSHIP DI PEREKONOMIAN BUMN”. Untuk memimpin sebuah BUMN, seseorang harus memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.

Mengelola perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memerlukan  seni pengelolaan tersendiri yang agak berbeda dibandingkan dengan sistem pengelolaan dalam sebuah perusahaan swasta. Perbedaan yang paling mencolok dapat ditunjukkan dalam beberapa hal.
Pertama, pengelolaan perusahaan BUMN sangat terkait erat dengan campur tangan langsung dari pihak pemilik, atau instansi yang berwenang dalam perihal aspek pengawasan, dan dalam proses penyusunan perencanaan maupun standard pelaksanaan tugas yang menjadi bagian tanggung jawab pimpinan organisasi. Untuk yang pertama ini, pengelolaan lebih aman karena adanya pengawasan terhadap pimpinan. Pimpinan sering kali tergoda untuk melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan keuntungan. Kedua, saratnya pengaruh kepentingan dari berbagai pihak di luar perusahaan yang menuntut mereka dapat memiliki peran maupun fungsinya serta berpartisipasi  dalam pengelolaan perusahaan.  Dan yang terakhir, terdapatnya kecenderungan budaya perusahaan yang belum terbangun secara positif pada upaya peningkatan produktivitas, efisiensi bisnis proses, peningkatan inovasi dan kemampuan memenangkan persaingan. Bila budayanya seperti ini, sebuah perusahaan akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari perusahaan yang bekerjsama dengan perusahaan tersebut karena perusahaan tidak menjalankan kegiatan operasional dengan sikap yang positif.

Pengelolaan perusahaan BUMN selama beberapa puluh tahun  yang lalu  sangat terkait erat dengan adanya campur tangan secara langsung dan tidak langsung dari para pihak pemilik dan instansi yang berwenang dalam aspek pengelolaan dan pengawasan.  Pada awal masa proses manajemen dimulai, pemerintah dalam hal ini Kantor Menteri Negara BUMN telah berperan aktif dalam proses penseleksian dan penempatan para calon anggota direksi dan komisaris.  Kegiatan ini tersirat pada Ketentuan Peraturan Pemerintah No.45 tahun 2005 Pasal 16. Atas dasar penugasan yang dikeluarkannya anggota direksi dituntut untuk memenuhi kontrak manajemen dalam pengurusan perusahaan BUMN tertentu untuk periode selama 5 tahun, sesuai dengan ketentuan yang serupa pada Pasal 19 dan Pasal 23.

Contoh kasus dalam kepemimpinan BUMN adalah sabagai berikut: Proses pembebanan tugas-tugas khusus yang sifatnya tidak terduga, walaupun peraturan pemerintah telah menyatakan adanya kemungkinan pimpinan perusahaan BUMN untuk menjalankan tugas tersebut tanpa mempengaruhi margin usaha.  Peraturan Pemerintah No 45 Tahun 2005 pada Pasal 65 menyatakan bahwa Pemerintah dapat memberikan penugasan khusus pada perusahaan BUMN untuk menyelenggarakan fungsi kemanfaatan umum. Apabila dalam penyelenggaraannya secara finansial perusahaan mengalami kerugian, maka Pemerintah dapat memberikan kompensasi atas semua biaya yang telah dikeluarkan dalam tingkat kewajaran. Masalah yang dijumpai dilapangan bahwa acapkali proses penggantian biaya penyelenggaraan tersebut memakan waktu, dan terdapat kesulitan memisahkan proses pembukuan dari kegiatan-kegiatan penugasan ini.          Gangguan dan rongrongan yang datang ini akan membawa implikasi pada meningkatnya biaya transaksi (transaction cost) yang tidak efisien, meningkatnya biaya birokrasi (bureaucratic cost) dan kemungkinan timbulnya moral hazard serta biaya ketidak efektifan para pengelola perusahaan (agency cost).Agar supaya biaya produksi perusahaan BUMN dapat memiliki daya saing yang tinggi, maka upaya-upaya dalam merestrukturisasi organisasi perusahaan dan merubah peraturan pemerintah perlu dilakukan dengan tujuan utama mengurangi keterlibatan pemerintah, instansi teknis dan masyarakat dalam pengurusan perusahaan BUMN tersebut.

Atas dasar kondisi-kondisi seperti yang dikemukakan ini proses mengelola perusahaan BUMN memerlukan satu seni tersendiri. Pimpinan perusahaan BUMN perlu bertindak sebagai seorang jendral organisasi dengan gaya kepemimpinan yang demokratis dan berwawasan ke depan (democratic and visionary leadership) dengan upaya untuk senantiasa melakukan manajemen perubahan (change management) dalam organisasinya, pimpinan puncak perusahaan perlu mengelola perusahaa sedemikian rupa sehingga para karyawan, sumber daya, dan informasi dalam organisasi dapat dikelola secara seimbang (balance) dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan juga semua kepentingan “stakeholders” yang dihadapi perusahaan.
Pimpinan perusahaan BUMN harus memandang organisasi perusahaan ini  sebagai suatu sistem organisasi modern untuk mencapai tujuan organisasi dalam jangka panjang dengan melibatkan partisipasi aktif para karyawan, serta menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance, dan membangun sistem informasi maupun jalinan network dengan para pihak yang berkepentingan di luar perusahaan.
Disamping mengadopsi sistem manajemen perubahan, para pimpinan perusahaan BUMN perlu melakukan upaya peningkatan bisnis prosess yang berorientasikan pada performance dan teknologi ,serta membangun tatanan organisasi dan budaya perusahaan yang kondusif pada perubahan dan peningkatan produktivitas.

ANALISA:

Jiwa kepemimpinan di perekonomian BUMN masih mengalami fluktuasi sikap untuk menghadapi suatu masalah. Ada pimpinan yang bersikap positif untuk dapat meningkatkan keuntungannya dengan bekerjasama dengan baik, dan ada pula pimpinan yang menggunakan moral hazard untuk mendapatkan keuntungan misalnya dengan memanipulasi data. Dengan adanya moral hazard dalam suatu perusahaan, kegiatan operasional perusahaan tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Seorang pimpinan perusahaan harus dapat menjadi panutan yang baik bagi seluruh apa yang dipimpinnya. Tata kelola perusahaan harus ditingkatkan. Kita harus menilai kinerja direksi dari penciptaan nilai yang obyektif dan tidak subyektif.

November 21, 2008 - Posted by | TUGAS KULIAH TEORI EKONOMI

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: